Indonesia Dilanda Isu Rasis, ini Pesan dari Irak

Internasional – Dinamika politik di Indonesia tengah dilanda perpecahan buntut ucapan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang dinilai menistakan agama. Demo berbagai jilid mewarnai Jakarta pasca ucapan Ahok tersebut. Rentetan kasus tersebut membawa banyak tersangka.

Vonis penjara Ahok, Kasus ITE Buni Yani, kasus makar yang menyeret banyak pihak hingga chat mesum Firza Husen dan Habib Rizieq merupakan eskalasi dari kasus yang menyeret Ahok.

Meskipun kasus tersebut dipandang terpisah, namun dinilai banyak pihak merupakan suatu rentetan dari ucapan Ahok soal Al-Maidah ayat 51. Bahkan terakhir ledakan bom di Kampung Melayu, Jakarta Timur yang memakan korban jiwa.

Itu merupakan kasus besar pasca ucapan Ahok. Isu rasis semakin bertambah melebar pasca penghinaan Gubernur NTB, TGH M Zainul Majdi saat berada di bandara Singapura. Dia dihina seorang remaja keturunan dengan ucapan rasis.

Melihat kegaduhan Indonesia saat ini, seorang WNI yang berada di Irak mencapaikan pesan pada Presiden Indonesia, Joko Widodo untuk menjaga Pancasila agar Indonesia tidak seperti Irak.

Melalui swafoto, pria yang diketahui bernama Alto Labetubun menuliskan pesan pada Jokowi dari negara yang dilanda perang panjang tersebut.

“Bapak Presiden Joko Widodo, Panglima TNI dan Bapak Kapolri. Ini Kota Mosul, Iraq hancur lebur dan puluhan ribu nyawa melayang sia-sia karena gerakan radikal!!! Tolong jaga Pancasila dan UUD 45 baik-baik agat Indonesia tidak hancur seperti Mosul. Salam dari anak Kepulauan Kei, Mosul,” tulis Alto.

Mendadak foto tersebut menjadi viral. Alto merupakan seorang pekerja untuk lembaga kemanusiaan di Norwegian yang bernama Norwegian People’s Aid.

Alto yang diwawancarai suara.com, mengatakan dia berada di Mosul, sebuah kota di Irak yang luluh-lantak akibat serangan Islam State (IS) atau ISIS. Pesan Alto untuk Indonesia sangat mengejutkan, dia mengatakan Kota Mosul adalah kota mati akibat perang. Bahkan fotonya yang berlatar kepulan asap sisa perang menambah kecemasan.

Alto berujar, dahulunya ideologi IS yang berkembang di Mosul tidak didukung oleh mayoritas masyarakat Irak. Namun masyarakat tidak melakukan perlawanan terhadap gerakan IS yang mulai tumbuh itu. Akibatnya ideologi IS semakin berkembang dan justru tidak hanya menghancurkan Mosul, namun juga menghancurkan sebagian besar Irak.

“Harus diingat bahwa ideologi yang dimiliki oleh IS itu tidak didukung oleh masyarakat mayoritas di Irak. Tapi IS bisa berkembang dengan cepat karena rakyat yang mayoritas tersebut tidak melakukan perlawanan terhadap gerakan radikal ini dari awal, sehingga saat mereka sadar, segala sesuatu sudah terlambat. Silent Majority terjebak karena ketiadaan perlawanan dari mereka di awal pergerakan IS.” Ucap Alto seperti dilansir dari suara.com.

“Pesan dari gambar di Mosul ini saya sampaikan dengan harapan agar masyarakat Indonesia yang mayoritas cinta damai dan cinta NKRI mendukung pemerintah dan aparat penegak hukum untuk menjaga NKRI, sehingga kita yang hidup dalam kebhinekaan ini jangan sampai terpolarisasi sampai pada kondisi yang membahayakan kebinekaan Indonesia. Karena dalam perang, terutama perang saudara, kita semua akan menjadi korban,” tutupnya.

Pesan WNI tersebut mengingatkan kita untuk terus menjaga kebhinekaan kita di tengah dinamika politik yang memanas saat ini. Jangan sampai kericuhan di internal bangsa ini menjadi suatu celah bagi masuknya paham radikalisme yang menggerogoti bangsa kita. Karena, belum ada satu bukti nyata, suatu negara yang diduduki paham radikal akan membuat negara tersebut maju. Justru negara tempat radikalisme tumbuh telah hancur berkeping-keping. (ct)

Comments

comments