Kutukan Ahok dalam Putusan Kasus Penistaan Agama

Opini – Proses penyelidikan, penyidikan, penuntutan hingga vonis terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan aksi berbagai jilid telah usai pada puncaknya, yaitu suatu putusan pengadilan atas hukuman terhadap Ahok. Dua tahun penjara adalah harga yang dibayar Ahok atas pidatonya yang dinilai menistakan agama yang berdurasi kurang dari dua jam tersebut.

Air mata kebahagiaan dan duka berbaur menjadi satu menyelimuti bumi pertiwi ini. Gembira riuh, syahdu sedih terbelah menjadi dua air mata bagi pendukung dan pembenci Ahok.

Banyak yang bahagia atas putusan hakim terhadap kasus Ahok. Banyak pula yang hanyut tenggelam dalam duka atas putusan yang jauh lebih tinggi dari tuntutan jaksa tersebut. Duka dua kali dialami mereka, selain kalah dalam Pilkada DKI, pendukung Ahok harus menerima kenyataan junjungan yang dinilai berintegritas, jujur dan tegas tersebut mendekam di balik tembok derita.

Secara tidak langsung, vonis terhadap Ahok adalah lonceng pengingat kita akan rentannya kasus penodaan agama ke depannya. Era globalisasi yang menyeruak masuk membawa teknologi internet, membuat banyak orang rentan untuk saling hujat melalui media yang ada pada internet. Tidak dapat dipungkiri, secara realita hujatan terhadap suatu keyakinan masih bergentayangan dalam media sosial.

Suatu hari nanti, bisa saja terjadi pada kita atau orang-orang terdekat kita melakukan suatu penghinaan terhadap suatu keyakinan agama pada media sosial, dan berujung pada masalah hukum. Putusan hakim terhadap kasus Ahok menjadi yurisprudensi untuk mengadili orang-orang terdekat kita. Bisa saja kita akan divonis yang sama dengan vonis yang menimpa Ahok.

Sekali lagi ini akan menjadi yurisprudensi. Hari ini kita bersyukur atas ganjaran hukuman terhadap “si kafir” itu, tetapi suatu saat nanti bisa saja menjadi bumerang untuk kita semua. Ini merupakan suatu kutukan Ahok di tengah dilema proses penegakan hukum tanah air. Pertanyaannya, sudah siapkah kita untuk bertutur santun di media sosial?

Baca Juga:

Ketika Dunia Modern Menarik Paksa Mentawai

Ada Salib di Atas Masjid ini

Krisis Kelaki-lakian Global

Belajar dari Kehancuran Yunani Kuno

Tidak dapat dipungkiri, banyak kepentingan yang juga menjadi kendaraan pengantar Ahok dipenjara. Kepentingan atas kemarahan banyak orang atas ucapan rasis Ahok, kepentingan politik jelang pilkada, kepentingan berbagai elit untuk mengacaukan Jokowi, hingga kepentingan lainnya. Kepentingan tersebut menjadi bola salju yang terus membesar dan menghantam Ahok.

Penulis opini ini bukanlah pendukung Ahok. Saya justru membenci setiap kebijakan Ahok yang menyengsarakan rakyat kecil. Penggusuran misalnya, semua pemimpin tentu saja bisa melakukan penggusuran, itu bahkan lebih mudah dari bernapas, hanya tinggal memerintah jajaran di bawahnya, tidak perlu ada Ahok. Namun hal tersebut justru dinilai suatu keberanian oleh pendukungnya, dan dijadikan alat framing oleh media pencitra Ahok yang memunculkan slogan bahwa Ahok adalah orang yang tegas.

Pemimpin juga harus melihat kausalitas dari penggusuran itu dilakukan. Bagaimana nasip rakyat yang digusurnya. Jika hanya melakukan relokasi ke rusunawa tanpa ada sarana penunjang pekerjaan mereka seperti sebelum penggusuran, maka sama aja bohong.

Penulis berusaha untuk menempatkan diri orang yang netral dalam kasus Ahok. Ibarat suatu negara non blok. Tapi sebagai seorang penulis, saya akan meneliti sisi lain terhadap suatu peristiwa, mengingat konten-konten berita yang bertebaran di internet tentang Ahok, hanya ada di dua kubu mendukung atau membenci.

Dalam tulisan ini saya tidak memuji keberhasilan Ahok, tapi mengingatkan kita akan bahayanya putusan Ahok bagi kita yang sering berceloteh di internet. Cukupkan sudah permusuhan itu. Bukankah kemerdekaan Indonesia lahir karena keberanian para pejuang yang tidak mempersoalkan agama?

Kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari ulama dan para santri yang berjuang dengan darah dan keringat untuk memerdekakan kita. Kemerdekaan kita lahir dari masing-masing pondok pesantren yang bersatu mengusir penjajah di muka bumi Indonesia ini. Tapi kita juga tidak dapat pungkiri, bahwa kemerdekaan Indonesia juga atas jasa pejuang beragama lain. Kegigihan Yos Sudarso, Thomas Matulesy atau Kapitan Pattimura, hingga pencipta lagu Indonesia Raya, WR Supratman. Mereka adalah non muslim yang berperan sama dengan pejuang muslim lainnya. Apakah mereka pernah menanyakan identitas agama dalam memerangi penjajah? Bahkan mereka tidak pernah tunduk pada bangsa Belanda yang notabenenya beragama kristiani. Karena tanah ini diizinkan diinjak oleh perbedaan.

Marilah kita sama-sama bersatu kembali dalam membangun negeri ini. Tidak kah kita ingat kehancuran Yunani karena pertikaian di negeri sendiri? Karena perang panjang Athena dan Sparta, hingga Babilonia datang menghabiskan puing-puing keruntuhan Yunani. Tidak kah kita tahu Romawi hancur karena pertikaian di internal negeri tersebut? Tidak kah kita tahu bahwa Timur Tengah hancur karena perang di dalam negerinya? Tentu peristiwa itu adalah pesan Tuhan pada kita untuk selalu menjaga keharmonisan dalam negeri. Salam.

Penulis Opini: Bang Sentil

Foto: istimewa

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *