Terkuak, Pelaku Teror di Posko FPI Ternyata

Aksi teror di Markas Front Pembela Islam (FPI) telah terjadi sebanyak tiga kali. Aksi teror tersebut muncul saat FPI getolnya melakukan aksi menolak penistaan agama. Aksi teror yang dilakukan menjelang Pilkada DKI 2017, menimbulkan polemik baru di tengah beragam kasus yang terjadi belakangan ini.

Aksi teror pertama kali terjadi di DPC FPI Pasar Rebo. Menyusul kemudian aksi teror terjadi di Kompleks Timah, RW 12, Keluraha Tugu, Cimanggis, Depok, Selasa (7/2/2017), dan rumah salah seorang anggota FPI di Meruya, Jakarta Barat.

Polisi hingga kini terus mendalami pelaku bom molotif pada posko FPI. Berdasarkan keterangan saksi, terlihat tiga orang yang menggunakan sepeda motor melemparkan bom molotof tersebut pada posko FPI. Ketiga orang tersebut hingga kini masih didalami.

Sekjen Dewan Syuro DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta, Habib Novel Bamukmin, meyakini pelaku yang melemparkan bom molotof pada salah satu rumah anggota FPI di Meruya, dilakukan oleh komunis. Seperti dilansir dari okezone.com, Habib Novel mengatakan teror tersebut dilakukan karena FPI merupakan garda terdepan yang memerangi komunis maupun penista agama Islam lainnya.

“FPI kan garda terdepan memerangi komunis kemungkaran aliran sesat penistaan agama ya biasa kalau teror-teror itu ditujukan langsung kepada FPI sendiri,” kata Novel saat dikonfirmasi, Rabu (8/2/2017).

Aksi teror tersebut tidak lantas membuat FPI terprovokasi. Menurut Habib Novel, dengan adanya kasus seperti ini, membuat FPI memperketat pengawalan pada ulama-ulama yang menurutnya menjadi target kebencian pihak-pihak tertentu.

Meskipun pernyataan Habib Novel bernada sindiran, namun banyak pihak menilai kasus tersebut bermuatan politis. Sehingga berharap pada aparat yang berwajib untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

UPAYA MEWUJUDKAN KEDAMAIAN

Melihat dinamika politik Jakarta yang kian memanas pasca dugaan penistaan agama, puluhan netizen di media sosial menyuarakan kepedualiannya untuk terwujudnya kedamaian di Indonesia. Musuh terbesar bangsa saat ini bukan lah ada pada tubuh pada bangsa Indonesia sendiri, melainkan persaingan global yang membutuhkan masyarakat Indonesia bersiap diri untuk maju sebagai suatu peradaban imperium dunia.

Melalui postingan di media sosial, netizen berharap agar pihak-pihak yang saat ini berseteru untuk menyudahi permusuhan tersebut. Netizen menilai energi bangsa akan habis terkuras untuk perseturuan tersebut, sementara pada negara lainnya justru sibuk mempersiapkan diri untuk maju berkompetisi dalam persaingan global tersebut. (Baca: Belajar dari Kehancuran Yunani Kuno). Belajarlah peradaban Yunani yang hancur akibat perang di tubuh bangsa sendiri, antara Athena dan Sparta. Belajarlah dari perang di tubuh bangsa Romawi, erang antara Gracchi dan senat, perang antara Marius dan Sulla, perang antara Pompey dan Caesar. Belajarlah dari perang Waq’atul Jamal antara Ali dan Aisyah, pemberontakan Basrah dan Kufah yang menggulingkan kekalifahan Ali Bin Abi Talib dan banyak peperangan lainnya. (CT)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *