Belajar dari Kehancuran Yunani Kuno

Yunani kuno adalah suatu peradaban yang sangat besar dan dapat dikatakan suatu pusat peradaban kuno, bahkan Romawi yang krisis identitaspun memanifestasikan budaya, seni dan bahkan agama (dewa-dewa) Yunani. Kekayaan Yunani dapat diukur dari monumen-monumennya, bahkan monumen paling monumental adalah Parthenon, dipersembahkan untuk Athena sang dewi pelindung kota, sebuah patung perunggu kolosal yang menggambarkan Athena dan tangga berhias yang mengarah ke Propylaea.

Soal sastra, Yunani juga memiliki orator yang biasa diupah untuk berbicara mengadvokasi seseorang di pengadilan, semacam pengacara jika dipersamakan dengan masa kini, Yunani memiliki Guru, yang selalu mengajarkan nilai kehidupan, Sophis dengan logika kerap kontradiksi, Filsusf yang menjadi guru bagi zaman, paduan Suara, tragedi dan komedi, teater dan lainnya.

Soal seni, Yunani memiliki kuil-kuil cantik yang dipersembahkan untuk dewa mereka, memiliki patung yang selalu menghiasi kota. Tembikar (keramik) yang sangat menawan, lukisan yang indah, dilukis pelukis-pelukis terkenal seperti Zeuxis, Parrhasius dan Apelles.

Jika Indonesia adalah negara kepulauan dengan bentangan suku bangsa, bahasa, agama, budaya dan adat istiadat yang berbeda, di Yunani-pun memiliki kondisi geografis yang tidak memungkinkan bergabung dalam satu kesatuan besar. Kondisi geografis tersebut yang memisahkan kota-kota (disebut polis) di Yunani. Sehingga memiliki jarak yang terpisah jauh antara satu dengan yang lainnya.

Namun menurut mitos Yunani, bahwa seluruh kota dilindungi dengan dewa-dewa mereka, sehingga membuat menyerahnya musuh yang datang dari luar yang berhasrat merebuti kota-kota tersebut. Persia adalah bangsa imperium sama besar dengan Yunani, yang selau berhasrat untuk menaklukan Yunani. Darius Yang Agung sang raja Persia selalu berhasrat merebuti imperium tersebut. Namun kegagalan selalu didapatnya, setelah kekalahan telak pada perang Marathon, Darius berupaya untuk mengatur pasukan yang akan siap menyerang, tapi sayang pemberontakan yang terjadi di Mesir (taklukannya) membuatnya tidak bisa untuk mengatur dua pertempuran yang berbeda. akhirnya Darius jatuh sakit dan meninggal pada 486 SM. Darius digantikan oleh putranya Xerxes I.

Xerxes melakukan peperangan dengan Yunani, berharap melanjuti cita-cita mendiang ayahnya. Namun pasukan Athena yang dibantu oleh 300 pasukan Sparta berhasil menahlukan bangsa Persia. Peperangan panjang membuat Persia (sekarang Iran) terpukul mundur. Dari kemenangan Yunani ini dapat disimpulkan bahwa apabila kota-kota di Yunani bersatu maka kemenangan akan cepat diraihnya, namun sebaliknya jika masing-masing polis ini konflik maka kekacauan dan kehancuran yang akan terjadi.

Athena dan Sparta merupakan dua kota di Yunani kono yang terkenal dengan kehebatan tentara tempurnya. Dua kota ini adalah kota yang menjadi garda Yunani dalam melawan musuh-musuhnya. Namun kekalahan Persia pada perang, membuat Athena memanfaatkan keadaan. Mengingat Persia yang sedang lemahnya akibat kekalahan perang, Athena menguasai beberapa wilayah Persia, hal itu membuat peningkatan ekonomi di Athena, kemudian dengan itu Athena memperkuat militernya. Armada laut Athena menjadi nomor satu di Yunani kuno.

Kekuatan militer Athena membuat ketakutan pada Sparta akan dominasi Athena di Yunani. Sehingga pada 431 SM terjadi peperangan antara kedua kota di Yunani ini. Perang tersebut disebut perang Peloponnesos, antara koalisi liga Peloponnesos yang dipimpin bangsa Sparta melawan liga Delia yang dipimpin bangsa Athena. Kemenangan berhasil diraih oleh Sparta, sehingga Sparta menjadi kekuatan terbesar seantero Yunani. Masyarakat Athena dijadikan budak mereka dan dijual.

Perang saudara yang memakan waktu 27 tahun ini mengakibatkan seluruh Yunani mengalami kemiskinan, mengalami penderitaan dan berakhir dengan kehancuran. Karena saat mengetahui Yunani mengalami kemiskinan dan penderitaan panjang akibat perang saudara, Raja Philip II dari Kerajaan Makedonia mengambil kesempatan untuk menyerang Yunani. Philip II yang merupakan ayah dari Alexander Agung ini dengan sekejap meluluh-lantakkan Yunani, hingga tenggelamlah peradaban Yunani kuno.

Pesan yang dapat kita petik dari hancurnya peradaban Yunani ini adalah konflik atau perang saudara yang menyebabkan kehancuran suatu peradaban. Bayangkan, Yunani yang bersatu dapat dapat mengalahkan Persia yang kuat. Karena benar bahwa ciri-ciri akan musnahnya suatu peradaban adalah perang sesama bangsa sendiri.

Bukan cuma Yunani yang hancur akibat perang saudara, Romawi-pun begitu, perang antara Gracchi dan senat, perang antara Marius dan Sulla, perang antara Pompey dan Caesar dan berakhir dengan kehancuran. Bahkan peradabat Islam-pun runtuh akibat peperangan di tubuh bangsa itu sendiri, peperangan Waq’atul Jamal antara Ali dan Aisyah, pemberontakan Basrah dan Kufah yang menggulingkan kekalifahan Ali Bin Abi Talib dan banyak peperangan lainnya.

Untuk itu maka pesan yang dapat kita ambil dari sejarah kehancuran peradaban-peradaban besar di dunia khususnya Yunani, adalah bagaimana kita agar kembali bersatu. Di bawah NKRI kita bersatu dan menjadi suatu bangsa yang kuat, bersatu dalam menumpas terorisme maupun korupsi yang menjadi bom waktu bagi hancurnya bangsa ini. Sehingga dalam tinta emas sejarah dunia, Indonesia merupakan imperium moderen di dunia ini.

Oleh: Satria Zulfikar R

Refrensi:
– Seignobos, Charles. 2014. Sejarah Peradaban Dunia Kuno. Yugyakarta: IndoLiterasi
– Wikipedia Indonesia. 2016. Darius I Dari Persia. diakses dari
https://id.wikipedia.org/wiki/Darius_I_dari_Persia pada tanggal 4 februari 2016, pukul 07.00 Wita

Foto: Kuil Parthenon Yunani (ist)

Comments

comments

One thought on “Belajar dari Kehancuran Yunani Kuno

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *