Teknik Framing Pada Media Untuk Mempercantik Ahok

OPINI_   Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok akhir-akhir ini menjadi sorotan publik. Pernyataannya yang dinilai menistakan suatu keyakinan agama membuat reaksi keras di Tanah Air. Aksi besar-besaran dengan jargon Aksi Bela Islam menuntut Ahok untuk diadili dengan seadil-adilnya menggema di hampir seluruh negeri ini.

Namun entah mengapa, di tengah berbagai reaksi mengecam Ahok, masih banyak masyarakat yang justru mendukung Ahok dan mengatakan kasusnya merupakan eskalasi tensi politik pra Pilkada DKI.

Dukungan Ahok tersebut juga tidak terlepas dari peranan media pendukungnya untuk mengangkat citra Ahok dengan teknik framing berita. Teknik framing berita merupakan teknik pengemasan atau penyusunan informasi tentang suatu peristiwa dengan misi pembentukan opini dan penggiringan perspektif publik terntang suatu peristiwa.

Teknik framing berita bukanlah berita palsu, namun pengemasan berita yang sesuai tujuan media untuk membentuk opini publik. Misalnya dalam kasus Ahok, yang kerap bertindak kasar saat bertutur kata. Kata ‘kasar’ tersebut akan dikemas oleh media dengan pemberitakan bahwa Ahok bersikap ‘tegas’. Sehingga penilaian kasar yang memiliki makna buruk akan diolah menjadi sikap ‘tegas’ yang tentunya bermakna positif.

Contoh kedua, soal durasi. Kasus penggusuran di Jakarta misalnya. Media pendukung Ahok akan memberikan Ahok kesempatan berbicara lebih panjang soal penggusuran. Sedangkan untuk korban penggusuran sendiri akan diberikan durasi bicara sedikit oleh media. Tentunya akan berdampak pada opini publik di Indonesia, bahwa apa yang Ahok lakukan (penggusuran) adalah benar. Media cendrung mengutip pernyataanm korban penggusuran ala kadarnya, atau hanya sebagai syarat cover both sides (keberimbangan).

Contoh ketiga, angle atau sudut pandang berita yang mendukung Ahok. Ini yang telah diketahui masyarakat luas, pada saat Aksi Bela Islam, media pendukung Ahok secara terang-terangan memberitakan dampak dari demonstrasi besar-besaran tersebut. Mislanya sisa sampah usai demonstrasi, tanaman yang diinjak, dan makna yang buruk lainnya. Padahal yang harus menjadi sorotan utama dalam lensa kamera adalah demonstrasi dan tuntutannya. Namun media pendukung Ahok memberitakan jauh dari konteks aksi.

Contoh keempat framing tentang kandidat politik lawan Ahok. Misalnya, Anis Baswedan. Yang akan diangkat oleh media pendukung Ahok tentang citra yang dinilai buruk oleh media. Misalnya masa pra Pilkada saat ini, Anis akan dicitrakan pernah menjadi menteri yang digantikan oleh Jokowi. Peristiwa tersebut adalah peristiwa lama, namun media menggiring opini bahwa Anis pernah diberhentikan. Dan itu diberitakan secara berulang-ulang. Sedangkan Ahok juga akan diberitakan peristiwa lamanya, namun peristiwa yang diangkat adalah prestasi Ahok yang membersihkan sungai atau hal positif lainnya. Meskipun Ahok juga pernah melakukan peristiwa yang merendahkan citranya, seperti bersikap arogan atau berkata kasar. Misalnya mengusir wartawan atau memarahi rakyat yang datang pada pendopo.

Berita-berita tersebut tidaklah bohong, namun diolah untuk mengarahkan perspektif publik sesuai dengan tujuannya. Dari sinilah yang melatar belakangi banyak media-media muslim yang merasa harus memperjuangkan apa yang mereka yakini tidak adil. Namun terkadang media-media tersebut dibredel pemerintah lantaran dinilai menyebarkan kekerasan. Padahal kekerasan yang mereka sebarkan buntut dari ketidak-adilan yang mereka alami.

Kita saat akan kembali menilai, apakah pantas kebebasan pers yang kita perjuangkan sejak dulu, namun dimanfaatkan sedemikian rupa oleh media mainstream pembela salah satu figur politik. Berita hoax yang sering terjadi saat ini, tidak terlepas dari media-media pendukung salah satu kandididat. Membuat masyarakat tidak mempercayai lagi media. Misalnya saat Pilpres Prabowo dan Jokowi. Media secara terang-terangan berada pada dua kubu tersebut. Hasilnya survey kemenangan kandidat antara media yang satu dan media lainnya berbeda. Dari sana lah masyarakat tidak mempercayai media. Munculah media-media hoax. Dan lucunya lagi, media-media nasional yang berada pada kubu-kubu tertentu mengkampanyekan anti hoax, tapi tetap melakukan framing berita. Sangat aneh.

Berikut adalah sebuah video contoh teknik framing berita:

Oleh: SATRIA ZULFIKAR R

Kirimkan opini anda pada email kami: opininetizen@gmail.com

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *