Afi Nihaya, Cukuplah Menyulut Api Permusuhan

Oleh: Baiq Chintya 

Beberapa lama saya memantau tulisan akun facebook Afi Nihaya Faradisa, kesan saya cukup bangga, anak sekecil itu paham arti toleransi. Tapi, sekian lama status-status baru miliknya muncul, saya jadi ragu toleransi yang selama ini ia utarakan lewat paragraf demi paragraf tulisannya. Saya menduga itu hanya momentum yang dimanfaatkannya dengan baik demi popularitas.

Mungkin keraguan saya sangat dangkal, atau mungkin justru sebaliknya. Fakta mengatakan di negeri ini terbagi menjadi tiga polarisasi masyarakat akibat sentimen agama pasca pernyataan Ahok yang dinilai menistakan suatu keyakinan. Masyarakat pertama sering disebut simpatisan Ahok, masyarakat kedua musuh Ahok, dan masyarakat ketiga adalah orang yang menempatkan diri pada posisi netral menyikapi eskalasi suhu politik bangsa ini.

Status Afi pertama kali, saya menilai ia ada pada golongan masyarakat ketiga, masyarakat yang netral dari hiruk-pikuk dinamisasi memanas perpolitikan nasional. Saya menilai dia sebagai obat penetral dari akutnya permasalah bangsa. Namun seiring dengan munculnya status-status lainnya, saya justru menganggapnya sebagai golongan pro Ahok.

Afi sudah tidak dapat menempatkan netralitasnya dalam masalah bangsa ini. Substansi pada setiap statusnya kerap justru menguntungkan kubu Ahok dan melemahkan kubu lawan Ahok. Bagaimana bisa bicara toleransi, jika menyikapi setiap permasalahan berdasarkan subjektifitas. Afi hanya bisa merasakan suasana hati (kebatinan) orang-orang yang pro Ahok dibanding lawan Ahok sendiri. Bahkan dilakukan dengan klaim toleransi.

Mengapa Afi tidak pernah mengkritisi orang-orang di kubu Ahok? saya meyakini pikirannya telah terkontaminasi pemberitaan media yang terus-terusan memberitakan aksi damai berjilid-jilid tersebut. Karena jutaan massa turun aksi, sehingga menjadi daya tarik jurnalis untuk meliputnya. Banyak yang menilai aksi tersebut suatu bentuk intoleransi. Lagi-lagi ini soal massa. Jutaan massa. Padahal sejatinya, kubu pro Ahok pun melancarkan aksi dukungan terhadap Ahok, namun dengan estimasi massa yang kecil, sehingga tidak sebesar aksi lawan Ahok tersebut, imbasnya pemberitaan soal aksi dukung Ahok menjadi sedikit, dan dianggap kubu Ahok merupakan kaum terdzolimi.

Saya berpikir apa untungnya status-status yang ditulis Afi selain hanya untuk membuat pendukung Ahok tersenyum dan bangga, dan membuat lawan Ahok kesal dan berujung pada serangan balik terhadap Afi melalui bully.

Afi… Permasalahan di negeri ini soal komitmen dan keyakinan. Setebal apapun tulisanmu tidak akan pernah membuat lawan Ahok akan menurutinya. Ibarat doktrin, tidak bisa dilawan dengan kata-kata yang sifatnya himbauan, apalagi mengarah pada kritikan. Jangankan Afi, sekaliber ulama moderat pun tidak akan diikuti. Lantas untuk apa status-statusmu itu kalau bukan untuk memperuncing permusuhan. Keuntunganmu jika demi popularitas, namun lihat reaksi yang terjadi, permusuhan terus terbuka. Pernah nggak lawan Ahok berubah paradigmanya setelah membaca tulisanmu? Justru mereka membalas dengan melakukan penyerangan terhadapmu. Itu artinya status-status Afi hanyalah pisau peruncing permusuhan.

Lihat lah banyak orang saling hujat melalui ruang komentar di status facebookmu. Apakah itu yang kau sebut keberhasilan? Apakah itu toleransi yang kau junjung jika terus-terus mendatangkan pertikaian? Sekali lagi, setebal apapun sumber yang kau gunakan untuk bicara toleransi, tidak akan merubah keadaan saat ini. Karena kau saat ini sedang intoleran.

Toleransi itu bukan hanya untuk minoritas. Seseorang yang mendukung Ahok melalui aksi bahkan sedang intoleran atas pernyataan Ahok yang menyudutkan suatu keyakinan. Begitu juga sebaliknya dengan lawan Ahok, intoleran terhadap tindakan Ahok. Karena sejatinya, tidak ada satu pun manusia yang bisa toleransi total.

Ini sedikit pesan dari saya untukmu Dik Afi, semoga ada waktu lagi untuk menuliskan hal-hal lainnya. Pelajarilah cara yang tepat untuk menghentikan suatu permusuhan di bangsa ini, dan cukup lah mempertajam pisau permusuhan. Energi bangsa kita telah terkuras habis untuk membenahi keadaan internal bangsa ini.

Comments

comments