Salam Cinta dari Ketinggian 38.000 Kaki

“Gak mungkin, apakah setega itu ibumu korbankan perasaanmu?!, atau kau memang benar menicintainya?!”

“Nisa, aku juga gak mau seperti ini, tapi lihatlah, setelah kepergian ayah, ibu selalu melamun seorang diri, aku gak mau ibu terluka lagi, tolong kamu mengerti, aku cinta kamu Nis..”

Empat tahun menjalani cinta, hati Nisa sangat terpukul mendengar kekasihnya Divo yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan dengan wanita pilihan ibunya, matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar menahan sedih mendalam, ia belum sanggup kehilangan orang yang begitu berarti baginya.

Nisa seorang pramugari AirAsia selalu tersenyum saat memberi aba-aba keselamatan terbang pada penumpang, namun kini pipi merah jambu itu menahan kesedihan yang dalam, baginya Divo merupakan suami masa depannya, seorang suami khayalan yang akan menjadi nyata, namun semua itu hancur saat Divo ucapkan kata perpisahan dengannya.

Nisa yang menjadi tulang punggung keluarga, yang menjadi harapan adik-adiknya untuk melanjutkan pendidikan, namun air mata suci itu berlinang di ujung lembayung sore dermaga sepi, di serambi senja yang menunggu malam. Tangisannya di samping kekasih membuat ia tak mampu memandang lautan lepas, tak peduli orang manatap dari atas geladak kapal, tangisannya semakin menyayat luka.

Tentu ia tidak ingin kisah cintanya berakhir seperti kisah tenggelamnya kapal Van der Wijck, yang tersusun syahdu lewat goresan tinta Buya Hamka, dan kemudian tersaji dengan gagahnya melalui film dengan sutradara Sunil Soraya, namun Nisa seorang yang tegar, ia mampu hadapi terjangan badai yang menghempasnya dalam batu karang, sementara air laut menggarami tubuhnya. Nisa berupaya melepas kenangan empat tahun melalui air mata sunyinya.

“Nisa, kalau memang cinta kita sejati, pasti Tuhan akan pertemukan kita lagi”

“Brengsek kau Div.., kau tahu apa dengan cinta sejati?, cinta sejati hanya imajinasi penulis cerpen yang melampaui batas dan menabrak koridor rasionalitas!. Tidak ada cinta sejati di dunia ini!”

Hatinya hancur, selama empat tahun menjadi pramugari, gajinya selalu disisihkan untuk biaya adik-adiknya bersekolah dan ditabungkan untuk tambahan biaya pesta nikah bersama Divo, namun kini impian yang retak itu telah pecah berkeping-keping dan tak dapat lagi direkat, bibir merah jambu itu hanya mampu bergetar menahan luka, tangan kanannya dilipat di perut, sementara tangan kiri menutupi bibir yang merah merona berhias tangis.

Lembayung beranjak pamit, langit hitam bertahta di dermaga sunyi ini, isak tangis itu perlahan mulai terputus, sementara Divo duduk pada tiang pengikat tali kapal, Nisa yang sejak tadi berdiri akhirnya dapat sedikit tenang setelah membuang luka hatinya melalui air mata, Nisa membuka percakapan singkat bersama kekasihnya.

“Baiklah, kalau memang ini takdir Tuhan, yang tak dapat merekat cinta kita, izinkan sehari sebelum pernikahanmu, kau dapat habiskan malam bersamaku, biarlah itu menjadi obat kerinduanku jika suatu saat nanti aku merindukannya”

Permintaan dengan nada terputus-putus itu sangat membuat hancur hati Divo, ia sangat mencintai Nisa, namun cinta pada orangtua setingkat lebih tinggi dari bangunan cinta selama empat tahun itu.

“Aku siap habiskan malam denganmu, aku siap Nisa.. Aku siap sayang, jangan bersedih lagi, hatiku satu malam akan menjadi milikmu”

Divo yang sejak tadi tegar tak kuasa membendung air matanya, ia berdiri menghampiri Nisa dan memeluk erat wanita yang setia dan sabar itu, rembulan seakan menjadi memori dalam kesaksian cinta terakhir di dermaga sunyi.

*******

Janji itu ditepati Divo, besok ia akan melangsungkan pernikahan dengan wanita pilihan ibunya. Malam ini dengan laju motornya ia temani Nisa, menelusuri lorong-lorong malam yang indah. Malam menjadi saksi perpisahan cinta suci sorang wanita, perpisahan yang agung antara dua insan yang bijak hadapi takdir.

“Angin, kuiklaskan lelaki ini menjadi miliknya, jaga dia..! aku sayang dia..!”

Nisa diatas laju motor lontarkan kata perpisahan, ribuan bintang di langit seakan bersedih dengan ketegaran seorang wanita ini, Divo mendengar kata-kata tersebut menyembunyikan tangisannya di depan, ia tidak ingin Nisa melihatnya menangis di malam terakhir mereka, karena ketika Nisa melihatnya menangis, tentu akan menyiksa perasaan wanita itu ketika mengenang malam terakhir ini.

Laju motor mereka mengelilingi seluruh kota, hingga serambi malam mereka lewati dengan suka cita, suka cita kepalsuan untuk menutupi catatan sedih akhir kebersamaan. Langit yang akhir-akhir ini biasa turun hujan, seakan mengizinkan perpisahan mereka, perpisahan di malam yang syahdu dengan hati yang haru.

Hingga fajar bertahta, lambaian tangan Nisa melepas Divo yang pulang. Melepas lelaki yang empat tahun menemaninya sekaligus menjadi penyemangatnya.

*******

Hari ini Divo melangsungkan pernikahannya dengan gadis pilihan sang ibu, sayangnya hari kebahagiaan Divo tidak bisa dihadiri oleh Nisa, bukan karena Nisa tak sanggup, ia adalah wanita yang tegar, namun profesional dalam karir menjadi pramugari membuatnya tidak bisa meninggalkan penerbangan.

Hari ini, minggu 28 desember 2014, Nisa terbang dengan pesawat AirAsia dengan nomor penerbangan QZ8501 dari Juanda Surabaya menuju Changi Airport, Singapura.

Di ujung pintu pesawat, Nisa menatap ke arah timur, ia yakin acara pernikahan itu berlangsung meriah, sembari ia menulis salam cinta pada mantan kekasihnya yang saat ini sedang duduk di kursi pelaminan.

“I Love You From 38000 ft”

Inilah salam cinta dari ketinggian 38000 kaki, salam cinta Nisa pada mantan kekasihnya yang sedang berbahagia disana, salam cinta untuk empat tahun waktu yang telah berlalu dan salam cinta untuk hati yang selama satu hari bersamanya.

Pesawat AirAsia QZ8501 itu lepas landas, menabrak angin dan terus melaju pada ketinggian 38000 kaki, membawa kenangan cinta menembus awan, setiap kecepatan menambah memori kenagan indah empat tahun yang lalu, perlahan di luar jendela pesawat hanya tergambar titik pulau, jauh meninggi kemudian menghilang.

Salam cinta itu terpampang indah di balik tirai pesawat yang menembus awan, pesawat itu melaju hingga hilang dari kejauhan. Pesawat yang mengangkut 162 penumpang tersebut hilang kontak.

Belakangan diketahui bahwa pesawat tersebut terjatuh di perairan selat Karimata pada minggu pagi 28 desember 2014, Nisa menjadi salah satu dari 162 orang yang tewas. Di ketahui bahwa pilot meminta izin naik ke ketinggian 38.000 feet (11,600 m) untuk menghindari awan tebal kumulonimbus, 155 penumpang dan 7 kru pesawat tidak terselamatkan.

Selamat jalan Nisa, engkau hanya terbang lebih tinggi menuju kedamaian abadi bersemayam bersama cinta abadimu untuk seorang kekasih. Air matamu menjadi saksi ketegaranmu, karena terkadang airmata lambangkan kekuatan, kekuatan suci yang kau miliki, biarkan angin meniupkan salam cintamu, terbang melintasi sanubari insan yang gundah, biarlah salam cintamu menjadi arti tentang suatu kisah sucimu, selamat tinggal.

Catatan:

Khairunisa Haidar Fauzi (22) adalah seorang pramugari korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ8501 yang pada hari minggu pagi lepas landas dari bandara Juanda Surabaya menuju Changi Airport, Singapura. Korban tewas sebanyak 162 orang, salah satunya adalah Nisa.

Sebelum kecelakaan Nisa menuliskan salam perpisahan bertulis “I Love You From 38000 ft” untuk kekasihnya Divo dan diunggah ke akun Instagramnya.

Karya: Satria Zulfikar R

Pernah ditulis pada Kompasiana

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *