Surat Terbuka untuk Bang Lutfi

Bang Lutfi… Perkenalkan nama saya Muhammad Isnaini. Saya hanyalah seorang mahasiswa yang sedang belajar berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pemuda Pancasila (PP) NTB dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) NTB. Siapalah saya jika dibanding dengan abang yang telah dikenal sebagai aktivis besar. Aktivis yang menumbangkan rezim orde baru dan kini sedang menjadi Anggota DPR RI Dapil NTB dua periode dari Fraksi Golkar, dan kabarnya akan mencalonkan diri sebagai Calon Walikota Bima Periode 2018-2023. Semoga niat suci abang di-ijabah oleh Allah Swt… Amiin.

Bang Lutfi… Saya sering mendengar nama abang, tapi saya tidak tahu abang, apalagi kenal abang. Tapi tiga hari belakangan ini, nama abang cukup sering menjadi pembahasan banyak orang, baik di facebook maupun whatsApp. Pembicaraan tentang abang, tentu tidak-lah muncul begitu saja, melainkan ada penyebabnya.

Menurut pantauan saya, penyebab utamanya adalah salah satu akun facebook berinisial JJ menulis keterlibatan abang atas dugaan korupsi yang dilakukan oleh saudara Faht Arafiq (rekan se-partai abang di Golkar). Status itu muncul berdasarkan berita saudara Faht menyebutkan keterlibatan komisi delapan terhadap kasus yang dia hadapi (kurang lebih demikian, jika salah mohon dikoreksi). Atas status facebook saudara JJ, muncul respon abang untuk melaporkan atau dalam bahasa “berita” melawan saudara JJ terhadap tuduhannya pada abang.

Bang Lutfi… Tidak ada kapasitas saya menilai apa yang akan abang lakukan, terlebih soal sumpah yang abang ucapkan tentang keseriusan abang melaporkan saudara JJ. Saya hanya ingin menyampaikan harapan atas kebingungan saya terhadap sikap abang tersebut (melaporkan saudara JJ).

Baca Juga:

Sebagai wakil rakyat Dapil NTB, tentu saya rakyat NTB dapat memiliki harapan agar abang bisa bersikap arif dan bijaksana dalam menanggapi status saudara JJ tersebut. Dapatkah abang, sebagai anggota DPR RI dan sebagai politisi yang akan mencalonkan diri sebagai calon walikota untuk berbahasa (jika ada yang bertanya atas status saudara JJ), biasa lah adik-adik mahasiswa, mereka sedang menjalankan tugas kemahasiswaannya dalam mengawal supremasi hukum dan pemberantasan korupsi di negeri ini.

Namanya mahasiswa kadang bersikap dan merespon sesuatu dengan cukup emosional. Saya sebagai orang yang pernah melawan kekuasaan dan rezim yang telah lama berkuasa bisa merasakan apa yang dirasakan adik-adik mahasiswa. Saya memaafkan tuduhan mereka, walaupun tuduhan itu cukup menyakitkan buat saya, sebab tidak pernah sama sekali saya berbuat.

Sudahlah, saya tidak ingin menghabiskan waktu membahas mereka. Saya hanya ingin fokus kerja untuk rakyat. Malah adik-adik itu perlu kita dukung untuk mendatangi KPK, agar kasus tersebut terang-benderang, agar jelas siapa yang terlibat atau tidak sebagaimana mereka tuduhkan.

Bang Lutfi… Maaf saya tidak bermaksud mengajari abang, melainkan semata karena besar harapan saya abang bisa berlaku bijak dan arif. Mereka sama dengan abang saat mahasiswa dulu.

Bang Lutfi… Saya berharap sebagai rakyat, bahwa pemimpin masa depan kami adalah pemimpin yang arif dan bijaksana dalam menghadapi rakyatnya. Harapan itu beralasan di tengah kemerosotan kearifan dan kebijaksaan para pemimpin nasional maupun pemimpin daerah yang suka melaporkan rakyatnya atas nama “HARGA DIRI.”

Bang Lutfi… Kami berharap dan kami tidak ingin abang sebagai pemimpin masa depan (semoga) berperilaku sebagaimana perilaku mereka-mereka para pemimpin yang suka dan bangga memenjarakan rakyatnya, dan merasa bangga atas hal demikian.

Bang Lutfi… Bukankah abang (kata orang) yang telah menumbangkan rezim otoriter orde baru? Rezim yang suka nangkap rakyatnya? Lalu kenapa abang sekarang berperilaku sama dengan rezim yang abang tumbangkan?

Bang Lutfi… Jika kebebasan para mahasiswa itu abang anggap kebablasan, lalu kebebasan-kebablasan itu bukankah abang sendiri dengan kawan-kawan Aktivis 98 yang melahirkan atas nama reformasi dan demokrasi?!!! Mari kita berpikir jernih bang. Abang yang dulu juga hampir sama seperti adik-adikmu sekarang, sama-sama memiliki cita-cita terhadap bangsa dan negara ini.

Bang Lutfi… Saya hanya ingin bertanya, apakah arif dan bijaksana seorang wakil rakyat memenjarakan rakyatnya? Apakah arif dan bijaksana seorang mantan aktivis memenjarakan aktivis? Apakah semua itu perlu dilakukan, demi dan atas nama HARGA DIRI?

Bang Lutfi… Abang tahu yang terbaik untuk abang harus lakukan. Saya maupun rakyat juga tahu apa yang mesti kami beri penilaian terhadap wakil rakyat kami yang ingin memenjarakan rakyat atas nama HARGA DIRI dan UU ITE.

Bang Lutfi… Saya membaca di salah satu media online bahwa abang akan melawan. Lalu saya mencoba menilai kata “melawan” itu. Seakan-akan JJ itu sekelas abang. Sejujurnya saya ketawa bang. Saya mau mengatakan JJ itu bukan lawan abang. Jangan membuat JJ menjadi besar dan abang menjadi “kerdil”. Jika saya sebagai “mahasiswa ribut” atau debat filsafat dengan anak SD, saya menang, pasti akan malu jika saya kalah.

Bang Lutfi… Saya lupa, saya juga sedang belajar organisasi di BANAAR NTB (Badan Ansor Anti Narkoba). Saya minta maaf atas kelancangan surat terbuka saya untuk abang. Saya bukan aktivis bang. Saya bukanlah siapa-siapa dibanding abang.

Bang Lutfi… Saya sadar dengan sesadarnya atas konsekuensi surat terbuka ini. Mungkin saja ini akan abang anggap sebagai pencemaran nama baik atau perbuatan tidak menyenangkan. Lalu nasib saya akan sama dengan saudara JJ. Sebab UU ITE sekarang sangat menakutkan bagaikan monster pembunuh di era demokrasi.

Bang Lutfi… Lagi-lagi saya bukanlah siapa-siapa. Semoga abang menilai surat terbuka saya ini sebagai bentuk kecintaan dan rasa hormat berlebihan saya terhadap abang. Namun Jika abang melaporkan saya karena surat ini, hanya satu yang bisa saya lakukan, yaitu menghubungi orang tua untuk meminta maaf kepada mereka, agar saya didoakan tabah serta sabar menerima konsekuensi yang saya lakukan. Sebab saya tidak memiliki kemampuan menyewa pengacara sebagaimana abang. Sebab saya tidak memiliki koneksi politik sebagaimana yang abang miliki. Sebab saya tidak memiliki kawan aktivis hebat dan besar sebagaimana abang miliki.

Bang Lutfi… Semoga perjuangan dan ikhtiar abang untuk rakyat mendapat ridho Allah Swt. Setiap tindakan dan perbuatan manusia memiliki konsekuensi logis.

Muhammad Isnaini

Comments

comments